Senin, 22 Desember 2014

WAYANG

Sejarah Wayang
Wayang adalah jenis seni pertunjukan yang menghiaskan seorang tokoh atau kerajaan dalam dunia perwayangan. Wayang berasal dar kata Ma Hyang yang berarti menuju kepada roh spiritual, dewa atau Tuhan Yang  Maha Esa. Cerita wayang diambil dari buku Mahabarata atau Ramayana. Wayang sudah ada di Indonesia sejak zaman kerajaan Hindu.
Pada zaman dulu, wayang merupakan kesenian yang sangat populer. Pada masa pemerintahan raja-raja di Jawa, wayang dipakai sebagai sarana hiburan rakyat.
Raja-raja Jawa pada saat itu menempatkan wayang sebagai kesenian yang memiliki nilai kreasi tinggi.semua putrid raa diajar tarian tarian yang diambil dari seni wayang agar dapat menari dengan gerakan yang indah, bahkan raja raja meciptakan taran baru untuk menunjukan betapa tinggi jiwa seninya. Biasanya tarian ciptaannya hanya ditarikan pada acara penting penting saja.
Wayang juga digunakan untuk menyebarlkan agama islam yaitu salah satu Wali Sanga yaitu Sunan Kalijaga menggunakannya untuk menyebarkan ajaran Islam. Dengan wayang kulit, Sunan Kalijaga berharap pesan pesannya dapa dengan mudah diterima masyarakat yang saat itu sangat menyenangi wayang.
Ada beberapa jenis wayang, yaitu :
1. Wayang Wong (Wayang Orang), adalah kesenian wayang yang tokoh tokohnya diperankan oleh manusia. Wayang orang merupakan bentuk perwujudan dari wayang kulit yang di perankan manusia. Lakon yang biasa dibawakan dalam wayang orang adalah Babad Purwa yaitu Mahabharata dan Ramayana.
2. Wayang Kulit, adalah wayang yangtokoh-tokohnya terbut dari bahan kulit. Wayang kulit juga bermakna bayangan, yang mana hal ini disebabkan penonton juga dapat menikmati pertunjukan wayang kulitdaribelakang layar sehingga hanya melihat bayangannya saja.
3. Wayang Golek, adalah wayang yang tokoh tokohnya terbuat dari kayu tiga dimensi. Wayang golek merupakan wayang wayang yang hidup terutama di daerah Pasundan dan, Jawa Barat.lakon yang diambil dari wayang golek diambil dari Babad Menak, yaitu sejarah tanah Arab menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW.
4. Wayang Klithik adalah wayang yang terbuat dari kayu berbentuk pipih seperti wayang kulit. Menurut ceria wayang klithik ini pertama kali diciptaka oleh Pangeran Pekik, Adipati Surabaya. Pada mulanya wayang ini terbuat dari bahan kulit dan berbentuk kecil sehingga disebut  wayang krucil. Wayang klithik mempunyai bentuk seperti wayang gedog. Ceita wayang klithik diambil dari cerita Panji dan Damarwulan.

Perlengkapan Wayang

Panggung Pertunjukan
Untuk pertunjukkan wayang orang diperlukan panggung yang berfunsi sebagai tempat para pemain memainkan cerita wayang. Dalam pertunjukkan tersebut terdapat beeberapa  layar yang dipakai sebagai latar belakang setiap adegan. Layar yang menggambarkan kerajaan untuk adegan menghadap raja,layar yang menggambarkan  hutan untuk adegan perjalanan di dalam hutan, layar yang menggambarkan suasana taman untuk menggambarkan suasana santai dan lain sebagainya.
  Panggung pertunjukan juga dilengkapi lampu sorot warna-warni yang dipakai sebagai pendukung suasana setiap adegan, member efek cahaya bagi setiap adegan. Letak panggung pertunjukan biasanya lebih tinggi dari tempat duduk penonton.
Untuk pertunjukkan wayang kulit atau wayang golek diperlukan panggung pertunjukan yag berupa kelir atau layar. Karena itu pagelaran wayang kulit disebut juga Pakeliran. Selain layar juga dibutuhkan tempat untuk menancapkan wayang biasanya meletakkan wayang kulit/golek adalah debog (pelepah pisang), karena gampang ditusuk gagang dari wayang. Layar juga dilengkapi dengan lampu sorot untuk menerangi wayang.
Pada wayang kulit lampu sorot dpakai untuk menyorot wayang kulit agar bayangan wayang yang terdapat dilayar dapat terlihat  jelas. Pada zaman dahulu lampu sorot yang dipakai adalah blencong (lampu minyak yang apinya besar).

Gamelan
Setiap pertunjukan wayang selalu diiringi dengan gamelan yang mengalunkan irama yang dinamis sesuai dengan suasana adegan.
Gamelan adalah seperangkat alat musik yang menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Kata gamelan berasal dari kata bahasa Jawa, gamel yang berarti memukul ataumenabuh. Gamelan terbuat dari kayu atau gangsa, sejenis logam yang dicampur tembaga atau timah rejasa. Alat musik pengiring instrument gamelan terdiri dari kendang, bonang, siter, clempung, slenthem, demung, saron, kenong, kethuk, japan, kempyang, kempul, peking dan gong. Gamelan yang mengiringi pertunjukkan wayag memiliki nada suara Slendro dan Pelog.



Pesinden atau Waranggana
Dalam setiap pertunjukkan wayang sealu ada yang melantunkan tembang atau lagu lagu tradisional. Orang tersebut diesebut Pesinsen. Pesinden jugasering disebut sinden, berasal dari kata pasindhian yang berartikaya akan lagu atau yang melagukan (melantunkan lagu).Sinden juga sering disebut waranggana yang berasal dari kata wara yang berarti seorang yang berjenis kelamin wanita kemudian anggana berarti sendiri. Pada zaman dahulu waranggana adalah satu satunya wanita yang berada dalam panggug pergelaran wayang ataupun pentas klenengan.
Setiap menjalankan tugas, pesinden harus berpakaian resmi, memakai kain kebaya, rambut digelung atau disanggul. Mereka harus duduk bersimpuh(duduk dilantai dengan kaki dilipat). Posisi duduk bersimpuh merupakan posisi duduk yang dianggap sopan manakala menghadapi seorang yang dihormati. Posisi duduk yang demikian sangatlah melelahkan.
Pesinden haruslah memiliki suara yang khas sebagai pesinden yaitu suara yang melengking merdu dengan cengkok suara yang luwes. Mereka harus hafal tembang tembang tradisional lama dan baru.

Dalang
Dalang dalah pengatur jalannya pertunjukkan wayang. Dalang berasal dari akronim Ngudhal Piwulang. Ngudhal berarti membongkar atau menybar-luaskan dan piwulng berarti ajaran,informasi, penidikan, ilmu. Jadi fungsi dalang dalam pertunjukan wayang kulit member tuntunan. Dalang harus menguasi teknik pedalangan sebagai aspek hiburan, juga berpengetahuan luas dan mampu memberikan pengaruh.

Dalam pertunjukan wayang orang, dalang berfungsi sebagai pengarur jalannya cerita dan pengatur pergantian setiap  adegan. Dalang juga berperan sebagai penyampaian narasi atau pengantar cerita sebelum suatu adegan dimulai.
Selain itu, dalang wayang kulit atau wayang golek harus mamapu memainkan lembaran wayang kulit atau wayang golek. Dalang harus bias memainkan dengan gaya yang linca, mantap, tegas dan mempunyai greget. Gerakan tersebut disebut dengan sabetan atau gerakan memainkan lembar wayang kulit yasng lincah dan baik.

Tokoh Wayang

Dalam  cerita wayang yang mengacu pada buku Mahabharata sangat banayk tokoh yang terlibat. Tokoh-tokoh tersebut menggambarkan kehidupan di dunia ini. Ada tokoh yang baik hati, jahat, lemah lembuthatinya tapi tingkahnya kasar, licik, dan lan sebagainya.
Di kerajaan Padawa terdapat 5 tokoh yaitu Puntadewa atau Yudhistira, werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa semua ini merupakan simbol kebaikan. Mereka memiliki jiwaksatria, sakti, mempunyai keahlian masing masing dan selalumembela kebenaran.
Ada pua tokoh wayang yang bearupa raksasa jahat, penuh angkara murka. Tokoh demikian biasanya ditampilkan dengan muka merah dan rambut geni atau rambut seperti api. Tokoh demikian biasa di sebut buto atau raksasa. Gerakannya kasar tangannya saat menari selalu mengarah ke dalam, melambangkan orang yang serakah. Geraan mereka seperti orangyang yang mengumpulkan sesuatu untuk dirinya sendiri. Beda dengan gerakan tarian seorang ksatria yag membuang sesuatu kearah luaryang mealmbangkan orang yang selalu memberikan kebajikan kepada orang lain.
Tokoh yang paling di gemari masyarakat adalah Punakawan. Punakawan adalah tokoh perwayangan yang menggambarkan kehidupan masyarakat bawah. Mereka adalah pembantu ksatria Pendawa. Walaupun mereka hanya pembantu tetapi jiwamereka sangat baik, berbudi luhur, dan masing masing mempunyai kesaktian. Punakawan terdiri dari 4 orang, yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

Cerita Wayang
Setiap pertunjukan wayang mengambil salah satu cerita dalam pewayangan. Cerita tersebut ditampilkan dari awal sampai akhir pertnjukan. Dalam cerita pewayangan ada bebrapa macam lakon yng semuanya diambil dari buku Mahabharata atau Ramayana. Cerita-cerita itu dijadikan patokan dalam setiap pertunjukan. Dengan demikian jalan ceritanya selalu sama.
Karena cerita wayang mempunyai pakem yang tetap maka penggemar wayang sangat hafal jalan cerita wayng.lakon yang sangat digemari kebanyakan masyarakat antara laon Hanoman Obong, Gatot Kaca Gandrung, Perang Baratayuda, Petruk Dadi Ratu, Gatot Kaca Kembar, Wisanggeni Lahir dan masih banyak lagi.
Semua ceritanya mengandung pesan moral kejahatan yang akan dikalahkan dengan kebaikan. Ceritanya sendiri selalu dibumbui bermacam macam perilaku kehidupan. Yang paling unik adalah bahawa dalam semua cerita wayang selalu ada adeganmunculya Punakawan, yang member kesegaran dalam setiap pertunjukan.

Wayang dan Kepercayaan Masyarakat
Bicara masalah wayang tidak bias lepas dari kepercayaan yang hidup dalam masyarakat,terutama masyarakat pedesaan disana banyak di jumpai pantangan-pantangan atas sesuatu lakon atau cerita tertentu untuk pertunjukan wayang. Ada anggapan yang hidup dalam masyarakat bahwa lakon Bharatayuda tidak boleh dipentaskan dalam upacara perayaan perkawinan, hal ini terkait dengan kepercayaan masyarakat bahwa kalau pantangan tersebut akan mengalami kesusahan dalam hidupnya.
Pada dasarnya pertunjukan wayang kulit meruoakan upacara keagamaan atau upacara yang berhubungan dengan kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa, yang dilakukan pada malam hari dan dilakukan orang yang ahli untuk mengerjalkan pagelaran itu, yang dalam hal ini adalah seorang dalang. Jadi fungsi dalang juga meripakan perantara atas kemauan atau niat dari tuan rumah untuk mempersembahkan kepada Yang Maha Kuasa sebuah kesenia yang baik berupa Wayang Kulit.

Wayang Sebagai Warisan Budaya
Wyang merupakan seni budaya Indonesia yang sangat indah dan mengandung falsafah yang sangat baik bagi kehidupan masyarakat. Kesenian wayang adalah jenis kesenian yang dimiliki oleh bangsa kita yang mempunyai nilai budaya uang adlihung, sehingga harus dilestarikan agar tidak punah termakan oleh budaya asing yang masuk di Negara kita. Wayang sudah ditetapkan oleh UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, sebagai sebuah mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada tanggal 7 Nopember 2003. Jadi sudah selayaknya kita pelihara dan kita lestarikan agar dapat diwariskan ke anak cucu.


DAFTAR PUSTAKA : Lisbijanto Herry, Wayang, Graha Ilmu, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar